Minggu, 04 September 2016

Tahapan Belajar Ilmu Agama





“Bisa baca kitab, sudah. Lalu, sekarang apa?”

Kelas 3 sma. Tahun 2013. Akhirnya tamat juga kitab bahasa arab yang bisa saya pelajari dari guru saya(1). Alhamdulillah. Allah memberikan rejeki berupa kemampuan membaca kitab. Sesuatu yang saya impikan sejak lama. Nah. Lalu, sekarang apa?

Itulah pertanyaan yang ada di benak saya sejak beberapa tahun lalu. Ketika sudah bisa membaca kitab berbahasa arab yang merupakan pintu gerbang menuju ilmu keislaman yang begitu luas. Tahapan apa lagi yang harus ditempuh?

Tentu, idealnya adalah kita harus memiliki seorang guru yang mumpuni di beberapa bidang untuk membimbing kita mempelajari Ilmu agama seperti akidah, fiqih, juga ushul fiqh dan mustholah hadits. Tapi, bagaimana jika kita kesulitan menemukan guru tetap yang mendiktekan kepada kita berbagai permasalahan ilmu agama? Bagaimana jika kita tidak memiliki seseorang yang bersedia membimbing kita secara penuh untuk menaiki anak tangga keilmuan agama islam? Apakah kita lantas putus asa dan menghentikan pembelajaran? Tentu tidak.

Ketiadaan kondisi ideal tidak berarti kita lantas tidak berusaha sama sekali. Sebagaimana dikatakan oleh pepatah arab, apa yang tidak dapat diraih semuanya, tidak pula ditinggalkan semuanya. Juga, harus kita sadari bahwa Allah ta’ala memerintahkan  kita untuk menaati-Nya semaksimal yang kita bisa, sebagaimana yang ia firmankan dalam surat keenam puluh empat ayat keenam belas,

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (At-Taghabun: 16)

Jelas, kita diminta untuk berusaha maksimal dan tidak akan dibebani dengan apa yang tidak mampu kita jangkau.

Karena saya termasuk orang yang -ketika itu- belum dikarunia rejeki seorang guru yang secara intensif mengajarkan ilmu islam (terutama ilmu alat), maka saya berinisiatif untuk mencari tahapan belajar yang sesuai bagi saya. Beberapa kali mencari di internet, saya menemukan beberapa saran yang cukup membantu. Walaupun tetap saja saya rasa ada sesuatu yang kurang,berkaitan dengan sistem pembelajaran maupun kurikulum yang ditawarkan.

Hingga akhirnya saya menemukan sebuah buku yang menarik. Di pameran buku semester kemarin, teman saya menyarankan untuk membeli sebuah buku yang berkaitan dengan sistem pembelajaran dan kurikulum ilmu agama serta ilmu sosial.  Buku itu baru saja mengalami revisi dan baru saja keluar dengan format terbaru.

As-Subulul Mardhiyyah, li tholabil ‘ulum Asy-Syar’iyyah, nama buku itu. Arti harfiahnya adalah Jalan yang diridhai untuk mempelajari ilmu agama. Karangan Ahmad Salim, seorang peneliti di pusat studi dan riset Tafakkur.

Saya pun bergegas membeli buku itu. Alhamdulillah, harganya ketika itu 50 real. Tidak bisa dibandingkan dengan informasi menarik yang ada di dalamnya. Buku sudah di tangan, sekarang waktunya saya menikmati racikan sang penulis.

Buku yang tebalnya sekitar 663 halaman ini ternyata tidak hanya membahas tentang kurikulum pembelajaran ilmu agama. Buku ini terbagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama adalah bagian dimana Syekh Ahmad membahas tentang beberapa isu yang berkaitan dengan dunia ilmu agama. Lalu bagian kedua beliau membahas tentang kurikulum yang beliau sarankan untuk setiap cabang ilmu agama.

Untuk yang bagian pertama, pada awalnya saya kira beliau hanya akan membahas tentang hal-hal yang sudah sering dibahas di buku-buku tentang menuntut ilmu lainnya seperti tentang keutamaan belajar ilmu agama, kisah para ulama dahulu, dan lain sebagainya. Tapi ternyata tidak.

Beliau justru membahas beberapa isu terkait dunia keilmuan yang sangat menarik untuk didiskusikan. Di antaranya adalah tentang menentukan tujuan kita belajar ilmu agama, tentang metodologi, tentang generalis dan spesialis, tentang bermadzhab atau tidak, dan beberapa isu lainnya yang menurut saya sangat penting untuk dipahami dengan baik oleh seorang pelajar ilmu apapun.

Barulah di bagian kedua beliau membahas tentang kurikulum dan sistem pembelajaran yang beliau sarankan. Di bagian pertama, beliau menjelaskan bahwa di buku ini beliau mengumpulkan dari berbagai macam saran yang sudah dilontarkan sebelumnya. Beliau mengumpulkan, menyeleksi, kemudian menawarkan sebuah metode yang menjadikan pembelajaran sebuah ilmu itu terasa lebih realistis dan bisa diaplikasikan.

Bidang ilmu yang beliau bahas sangat banyak. Mulai dari ‘Aqidah, Fiqh, Tafsir, dan Hadits, hingga ilmu Ushul, Maqashid, dan Manthiq. Semuanya mencapai 23 ilmu dengan tahapan-tahapannya. Kemudian beliau juga menyertakan list buku yang seharusnya dibaca oleh seorang pelajar untuk menata keilmuan dan pola pikirnya. Setiap tahapan pembelajaran memiliki buku yang ditujukan untuk tahap pembelajaran tersebut.

Di akhir buku, beliau membahas tentang ilmu sosial yang penting untuk dipelajari oleh seorang pelajar ilmu agama. Beliau mengatakan bahwasanya diantara ilmu sosial yang sangat penting adalah antropologi, psikologi, pendidikan, linguistik, ekonomi, dan politik. Tidak berhenti di situ, beliau pun menyebutkan list buku yang hendaknya dibaca di setiap disiplin ilmu. Ini merupakan sebuah saran yang mengejutkan bagi saya karena sesuai dengan apa yang mengganjal di pikiran saya selama ini. Tentang eratnya hubungan ilmu agama dengan ilmu sosial. In sya Allah akan saya tuliskan artikel tersendiri mengenai hal ini
.
Nah, lalu, apa saja buku yang beliau sarankan? Dan bagaimana cara belajarnya? In sya Allah akan saya bahas di rangkaian tulisan selanjutnya.

Untuk sementara, saya sajikan dulu sedikit info tentang buku ini sekaligus . Semoga Allah mudahkan kita untuk terus meningkatkan kualitas ibadah kita kepada-Nya. Semoga bermanfaat!

------------------------------------------------------------------------------------------------

Judul Buku       : As-Subulul Madhiyyah li Tholabiil ‘Ulum Asy-Syari’iyyah
السبل المرضية لطلب العلوم الشرعية
Penulis             : Ahmad Salim
Penerbit          : Pusat Studi dan Riset Tafakkur
Cetakan           : Ketiga
Tebal               : 663 halaman
Harga              : 50 Real Saudi (kurs sekitar 3.600 rupiah)

Di antara poin menarik di dalam buku ini:

“Ilmu dunia yang bermanfaat adalah ilmu syari yang wajib untuk dikuasai” (hal. 29)

“…dan karena itu, kami memandang pentingya peningkatan jumlah orang yang mendalami ilmu sosial dan humaniora…” (hal. 38)

“Maka menurut saya, seorang generalis yang ideal dalam ilmu agama hendaknya mempelajari setiap ilmu baik ilmu alat maupun ilmu tujuan dengan kadar yang dapat membantunya untuk melakukan ijtihad secara parsial di setiap ilmu itu. Hingga dia dapat memandang pendapat-pendapat para pakar di ilmu-ilmu tersebut sebagai seorang yang jeli dan kritis, serta mampu untuk menguatkan salah satu pendapat yang dia anggap paling tepat.” (hal. 87)
                                                        
------------------------------------------------------------------------------
1.     1. Kitab itu adalah Mutammimah Al-Ajurrumiyyah. Buku nahwu level menengah yang baru sedikit menyinggung masalah perbedaan pendapat di kalangan pakar nahwu.