“Bisa baca kitab, sudah. Lalu, sekarang apa?”
Kelas 3 sma. Tahun 2013. Akhirnya tamat juga kitab bahasa
arab yang bisa saya pelajari dari guru saya(1). Alhamdulillah. Allah
memberikan rejeki berupa kemampuan membaca kitab. Sesuatu yang saya impikan
sejak lama. Nah. Lalu, sekarang apa?
Itulah pertanyaan yang ada di benak saya sejak beberapa tahun lalu.
Ketika sudah bisa membaca kitab berbahasa arab yang merupakan pintu
gerbang menuju ilmu keislaman yang begitu luas. Tahapan apa lagi yang harus ditempuh?
Tentu, idealnya adalah kita harus memiliki seorang guru yang
mumpuni di beberapa bidang untuk membimbing kita mempelajari Ilmu agama seperti
akidah, fiqih, juga ushul fiqh dan mustholah hadits. Tapi, bagaimana jika
kita kesulitan menemukan guru tetap yang mendiktekan kepada kita berbagai
permasalahan ilmu agama? Bagaimana jika kita tidak memiliki seseorang yang
bersedia membimbing kita secara penuh untuk menaiki anak tangga keilmuan agama
islam? Apakah kita lantas putus asa dan menghentikan pembelajaran? Tentu tidak.
Ketiadaan kondisi ideal tidak berarti kita lantas tidak
berusaha sama sekali. Sebagaimana dikatakan oleh pepatah arab, apa yang
tidak dapat diraih semuanya, tidak pula ditinggalkan semuanya. Juga, harus
kita sadari bahwa Allah ta’ala memerintahkan kita untuk menaati-Nya semaksimal yang kita
bisa, sebagaimana yang ia firmankan dalam surat keenam puluh empat ayat keenam
belas,
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.”
(At-Taghabun: 16)
Jelas, kita diminta untuk berusaha maksimal dan tidak akan
dibebani dengan apa yang tidak mampu kita jangkau.
Karena saya termasuk orang yang -ketika itu- belum dikarunia
rejeki seorang guru yang secara intensif mengajarkan ilmu islam (terutama ilmu
alat), maka saya berinisiatif untuk mencari tahapan belajar yang sesuai bagi
saya. Beberapa kali mencari di internet, saya menemukan beberapa saran yang
cukup membantu. Walaupun tetap saja saya rasa ada sesuatu yang kurang,berkaitan dengan sistem pembelajaran maupun kurikulum yang ditawarkan.
Hingga akhirnya saya menemukan sebuah buku yang menarik. Di
pameran buku semester kemarin, teman saya menyarankan untuk membeli sebuah buku
yang berkaitan dengan sistem pembelajaran dan kurikulum ilmu agama serta ilmu sosial.
Buku itu baru saja mengalami revisi dan
baru saja keluar dengan format terbaru.
As-Subulul Mardhiyyah, li tholabil ‘ulum Asy-Syar’iyyah, nama
buku itu. Arti harfiahnya adalah Jalan yang diridhai untuk mempelajari ilmu agama. Karangan
Ahmad Salim, seorang peneliti di pusat studi dan riset Tafakkur.
Saya pun bergegas membeli buku itu. Alhamdulillah, harganya
ketika itu 50 real. Tidak bisa dibandingkan dengan informasi menarik yang ada
di dalamnya. Buku sudah di tangan, sekarang waktunya saya menikmati racikan
sang penulis.
Buku yang tebalnya sekitar 663 halaman ini ternyata tidak
hanya membahas tentang kurikulum pembelajaran ilmu agama. Buku ini terbagi
menjadi 2 bagian. Bagian pertama adalah bagian dimana Syekh Ahmad membahas
tentang beberapa isu yang berkaitan dengan dunia ilmu agama. Lalu bagian kedua
beliau membahas tentang kurikulum yang beliau sarankan untuk setiap cabang ilmu agama.
Untuk yang bagian pertama, pada awalnya saya kira beliau
hanya akan membahas tentang hal-hal yang sudah sering dibahas di buku-buku
tentang menuntut ilmu lainnya seperti tentang keutamaan belajar ilmu agama,
kisah para ulama dahulu, dan lain sebagainya. Tapi ternyata tidak.
Beliau justru membahas beberapa isu terkait dunia keilmuan
yang sangat menarik untuk didiskusikan. Di antaranya adalah tentang menentukan
tujuan kita belajar ilmu agama, tentang metodologi, tentang generalis dan
spesialis, tentang bermadzhab atau tidak, dan beberapa isu lainnya yang menurut
saya sangat penting untuk dipahami dengan baik oleh seorang pelajar ilmu
apapun.
Barulah di bagian kedua beliau membahas tentang kurikulum dan
sistem pembelajaran yang beliau sarankan. Di bagian pertama, beliau menjelaskan
bahwa di buku ini beliau mengumpulkan dari berbagai macam saran yang sudah
dilontarkan sebelumnya. Beliau mengumpulkan, menyeleksi, kemudian menawarkan
sebuah metode yang menjadikan pembelajaran sebuah ilmu itu terasa lebih realistis
dan bisa diaplikasikan.
Bidang ilmu yang beliau bahas sangat banyak. Mulai dari ‘Aqidah,
Fiqh, Tafsir, dan Hadits, hingga ilmu Ushul, Maqashid, dan Manthiq. Semuanya
mencapai 23 ilmu dengan tahapan-tahapannya. Kemudian beliau juga menyertakan
list buku yang seharusnya dibaca oleh seorang pelajar untuk menata keilmuan dan
pola pikirnya. Setiap tahapan pembelajaran memiliki buku yang ditujukan untuk
tahap pembelajaran tersebut.
Di akhir buku, beliau membahas tentang ilmu sosial yang
penting untuk dipelajari oleh seorang pelajar ilmu agama. Beliau mengatakan
bahwasanya diantara ilmu sosial yang sangat penting adalah antropologi,
psikologi, pendidikan, linguistik, ekonomi, dan politik. Tidak berhenti di
situ, beliau pun menyebutkan list buku yang hendaknya dibaca di setiap disiplin
ilmu. Ini merupakan sebuah saran yang mengejutkan bagi saya karena sesuai
dengan apa yang mengganjal di pikiran saya selama ini. Tentang eratnya hubungan
ilmu agama dengan ilmu sosial. In sya Allah akan saya tuliskan artikel
tersendiri mengenai hal ini
.
Nah, lalu, apa saja buku yang beliau sarankan? Dan bagaimana
cara belajarnya? In sya Allah akan saya bahas di rangkaian tulisan selanjutnya.
Untuk sementara, saya sajikan dulu sedikit info tentang buku
ini sekaligus . Semoga Allah mudahkan kita untuk terus meningkatkan kualitas ibadah kita
kepada-Nya. Semoga bermanfaat!
------------------------------------------------------------------------------------------------
Judul Buku :
As-Subulul Madhiyyah li Tholabiil ‘Ulum Asy-Syari’iyyah
السبل المرضية
لطلب العلوم الشرعية
Penulis :
Ahmad Salim
Penerbit :
Pusat Studi dan Riset Tafakkur
Cetakan :
Ketiga
Tebal :
663 halaman
Harga :
50 Real Saudi (kurs sekitar 3.600 rupiah)
Link download :
https://archive.org/download/SboLm/SboLm.pdf
Di antara poin menarik di dalam buku ini:
“Ilmu dunia yang bermanfaat adalah ilmu syari yang wajib untuk dikuasai”
(hal. 29)
“…dan karena itu, kami memandang pentingya peningkatan jumlah orang yang
mendalami ilmu sosial dan humaniora…” (hal. 38)
“Maka menurut saya, seorang generalis yang ideal dalam ilmu agama hendaknya
mempelajari setiap ilmu baik ilmu alat maupun ilmu tujuan dengan kadar yang
dapat membantunya untuk melakukan ijtihad secara parsial di setiap ilmu itu. Hingga
dia dapat memandang pendapat-pendapat para pakar di ilmu-ilmu tersebut sebagai
seorang yang jeli dan kritis, serta mampu untuk menguatkan salah satu pendapat
yang dia anggap paling tepat.” (hal. 87)
------------------------------------------------------------------------------
1. 1. Kitab itu adalah Mutammimah Al-Ajurrumiyyah.
Buku nahwu level menengah yang baru sedikit menyinggung masalah perbedaan
pendapat di kalangan pakar nahwu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar