Minggu, 28 Agustus 2016

Permata Afrika Utara (1)




            Tahun 440 Hijriah. Laki-laki itu berdiri tegak menghadap permata “Al-Maghrib Al-Islami”. Pusat ilmu agama dan ilmu dunia, jantung peradaban afrika utara, kota Qairawan seakan menjanjikan banyak hal bagi siapa yang singgah padanya. Setelah lepas dari penjajahan rezim Syiah Ismailiyah, Qairawan terus mekar dengan majelis-majelis ilmu dan kajian. Para ahli fiqih giat mengajarkan ilmu kepada murid mereka, serta para pelajar berdatangan dari seluruh penjuru Afrika utara hingga negeri Andalusia nan jauh.


            Laki-laki itu memasuki sebuah masjid lantas mengedarkan pandangannya. Ia berhenti ketika melihat seorang syaikh yang berwibawa sedang menyampaikan kajian. Abu Imran Al-Fasi, Begitulah syaikh itu dipanggil. Pakar fiqihnya para ulama, rujukan penganut madzhab Malik bin Anas, dan Imam kaum muslimin. Hatinya terpikat dengan syaikh agung itu dan ia bertekad untuk tekun melazimi pelajaran sang syaikh.


            Hari berlalu hingga Yahya –sang pemuda- memutuskan untuk mengutarakan tujuan asal kedatangannya ke Qairawan. Ia sedang mencari seorang alim yang berkenan menemaninya untuk mendidik kaumnya, suku Jadalah. Mendengar hal itu, sang syaikh bertanya tentang sifat-sifat sukunya. 


“Kaumku adalah Jadalah, penghuni gurun-gurun tandus. Anak keturunan kabilah Sonhajah.” Kata Yahya.


“Baik, saudaraku. Lalu, terangkanlah kepada kami tentang keadaan kalian, dan madzhab apa yang kalian anut?” Sang Syaikh kembali bertanya.


“Kami tidak memiliki ilmu sedikitpun dan tidak bermadzhab dengan madzhab apapun. Kami terkungkung oleh gurun dan tidak ada yang mendatangi kami kecuali para pedagang yang agamanya rusak!” Jawab Yahya.


            Gayung bersambut. Seruan pun diserukan. Siapa yang berkenan menyebarkan agama Allah di pedalaman Afrika nun jauh?


            Sayang, bayangan akan kerasnya padang pasir dan beratnya kehidupan nomaden membuat para pelajar seakan ciut. Tidak ada yang menyahut. Tidak ada yang menyambut. Ah, siapa pula yang rela meninggalkan nyamannya kota besar untuk berdakwah di pedalaman? 


Yahya hampir putus asa, tetapi sang syaikh menghiburnya dan memberikan sepucuk surat padanya.


            “Datangilah muridku, seorang faqih nan zahid di ujung negeri Maghrib. alimnya negeri Sus, Wujaj bin Zalu Al-Lamthi.” Sang Syaikh berpesan.


            Yahya pun menuju negeri Sus, meninggalkan Qairawan dengan segala kenyamanannya. Di daerah Malkus, ia menemukan Syaikh yang dia cari. Dengan takzim, ia berikan surat tentang hal yang membuat hatinya gundah.


            Beberapa saat setelah membaca surat itu, Syaikh Wujaj mengumpulkan semua muridnya dan menawarkan perdagangan dengan Allah. Tawaran untuk mengajari kaum Jadalah tentang agama langit dan aturan terbaik. Mengamalkan apa yang selama ini mereka daraskan bersama sang guru.


Majulah salah seorang di antara mereka yang tampak padanya tanda-tanda kesalihan. Salah satu di antara murid terbaik Syaikh Wujaj, keturunan Bani Jazul, Abdullah bin Yasin. 


            Maka berangkatlah Yahya dan Abdullah bin Yasin menuju padang pasir Jadalah untuk menyerukan agama Allah, menyebarkan kebaikan di bumi Afrika yang luas.


(Bersambung)

371126

Hamzah Surbawi

Sumber gambar: http://i493.photobucket.com/albums/rr300/imiwasif/MAPS/23.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar