Tahun 440
Hijriah. Laki-laki itu berdiri tegak menghadap permata “Al-Maghrib Al-Islami”.
Pusat ilmu agama dan ilmu dunia, jantung peradaban afrika utara, kota Qairawan
seakan menjanjikan banyak hal bagi siapa yang singgah padanya. Setelah lepas
dari penjajahan rezim Syiah Ismailiyah, Qairawan terus mekar dengan majelis-majelis
ilmu dan kajian. Para ahli fiqih giat mengajarkan ilmu kepada murid mereka,
serta para pelajar berdatangan dari seluruh penjuru Afrika utara hingga negeri Andalusia
nan jauh.
Laki-laki
itu memasuki sebuah masjid lantas mengedarkan pandangannya. Ia berhenti ketika
melihat seorang syaikh yang berwibawa sedang menyampaikan kajian. Abu Imran
Al-Fasi, Begitulah syaikh itu dipanggil. Pakar fiqihnya para ulama, rujukan
penganut madzhab Malik bin Anas, dan Imam kaum muslimin. Hatinya terpikat
dengan syaikh agung itu dan ia bertekad untuk tekun melazimi pelajaran sang
syaikh.
Hari berlalu
hingga Yahya –sang pemuda- memutuskan untuk mengutarakan tujuan asal
kedatangannya ke Qairawan. Ia sedang mencari seorang alim yang berkenan
menemaninya untuk mendidik kaumnya, suku Jadalah. Mendengar hal itu, sang
syaikh bertanya tentang sifat-sifat sukunya.
“Kaumku adalah Jadalah, penghuni gurun-gurun tandus. Anak keturunan
kabilah Sonhajah.” Kata Yahya.
“Baik, saudaraku. Lalu, terangkanlah kepada kami tentang
keadaan kalian, dan madzhab apa yang kalian anut?” Sang Syaikh kembali
bertanya.
“Kami tidak memiliki ilmu sedikitpun dan tidak bermadzhab
dengan madzhab apapun. Kami terkungkung oleh gurun dan tidak ada yang mendatangi kami
kecuali para pedagang yang agamanya rusak!” Jawab Yahya.
Gayung
bersambut. Seruan pun diserukan. Siapa yang berkenan menyebarkan agama Allah di
pedalaman Afrika nun jauh?
Sayang,
bayangan akan kerasnya padang pasir dan beratnya kehidupan nomaden membuat para
pelajar seakan ciut. Tidak ada yang menyahut. Tidak ada yang menyambut. Ah,
siapa pula yang rela meninggalkan nyamannya kota besar untuk berdakwah di
pedalaman?
Yahya hampir putus asa, tetapi sang
syaikh menghiburnya dan memberikan sepucuk surat padanya.
“Datangilah
muridku, seorang faqih nan zahid di ujung negeri Maghrib. alimnya negeri Sus,
Wujaj bin Zalu Al-Lamthi.” Sang Syaikh berpesan.
Yahya pun
menuju negeri Sus, meninggalkan Qairawan dengan segala kenyamanannya. Di daerah
Malkus, ia menemukan Syaikh yang dia cari. Dengan takzim, ia berikan surat
tentang hal yang membuat hatinya gundah.
Beberapa
saat setelah membaca surat itu, Syaikh Wujaj mengumpulkan semua muridnya dan
menawarkan perdagangan dengan Allah. Tawaran untuk mengajari kaum Jadalah
tentang agama langit dan aturan terbaik. Mengamalkan apa yang selama ini mereka
daraskan bersama sang guru.
Majulah salah seorang di antara
mereka yang tampak padanya tanda-tanda kesalihan. Salah satu di antara murid
terbaik Syaikh Wujaj, keturunan Bani Jazul, Abdullah bin Yasin.
Maka
berangkatlah Yahya dan Abdullah bin Yasin menuju padang pasir Jadalah untuk
menyerukan agama Allah, menyebarkan kebaikan di bumi Afrika yang luas.
(Bersambung)
371126
Hamzah Surbawi
Sumber gambar: http://i493.photobucket.com/albums/rr300/imiwasif/MAPS/23.jpg
Sumber gambar: http://i493.photobucket.com/albums/rr300/imiwasif/MAPS/23.jpg

Tidak ada komentar:
Posting Komentar