Senin, 20 Juli 2015

Keutamaan Puasa Syawwal



                                                                        



No. 7859: Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawwal


          Puasa 6 hari di bulan Syawwal setelah puasa Ramadhan hukumnya Sunnah Mustahab dan tidak wajib. Hendaknya seorang muslim berpuasa 6 hari di bulan Syawwal. Puasa tersebut mengandung keutamaan yang agung serta pahala yang banyak. 

Barangsiapa yang melaksanakannya, ditulis baginya pahala puasa setahun penuh sebagaimana telah valid dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, Barangsiapa yang berpuasa ramadhan lalu menyertainya dengan puasa 6 hari di bulan Syawwal, seakan ia berpuasa sepanjang waktu (Ad-Dahr).” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)
             
         Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan makna Ad-Dahr dalam haditsnya yang lain, “Barangsiapa yang berpuasa selama 6 hari (di bulan Syawwal, pent.) setelah Idul Fithri, seakan ia berpuasa setahun penuh : (barangsiapa yang melakukan sebuah kebaikan, maka baginya pahala sebanyak sepuluh kali lipat).”

 Dan dalam sebuah riwayat,

Allah menetapkan bagi setiap kebaikan sepuluh kali lipat (pahala, pent.). Maka satu bulan sama dengan sepuluh bulan dan dengan puasa 6 hari sempurnalah hitungan satu tahun. (HR An-Nasai dan Ibnu Majah. Shahih At-Targhib wa At-Tarhib 1/421. Ibnu khuzaimah meriwayatkan dengan lafazh: “Puasa sebulan Ramadhan sama dengan sepuluh bulan. Puasa enam hari sama dengan dua bulan. Itulah puasa setahun penuh.”)
            
             Para Ahli fiqih dari kalangan Hanabilah dan Syafiiyah telah menegaskan bahwa puasa 6 hari di bulan Syawwal setelah puasa Ramadhan itu menyamai pahala puasa wajib selama setahun penuh. Kalaupun tidak, kelipatan pahala secara umum pun berlaku untuk puasa sunnah. Karena sebuah kebaikan diganjar dengan pahala sepuluh kali lipat.  
          
          Kemudian, di antara faidah penting dari puasa 6 hari pada bulan Syawwal adalah menambal kekurangan yang terdapat pada puasa wajib bulan Ramadhan. Karena seseorang yang berpuasa pasti melakukan dosa atau kesalahan yang merusak puasanya. Pada hari kiamat, amalan-amalan sunnah akan digunakan untuk menambal kekurangan amalan wajib.
           
             Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari manusia pada hari kiamat adalah solat mereka.”  

         Beliau melanjutkan, “Rabb kita (Allah, pent.) jalla wa ‘azza berkata pada malaikat-malaikat-Nya sedangkan Ia lebih mengetahui, ‘Lihatlah solat hamba-Ku, apakah dia mengerjakannya dengan sempurna atau ada kekurangan di dalamnya’. Apabila solatnya sempurna maka ditulis secara sempurna. Apabila ada kekurangan di dalamnya, Allah berkata, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan solat sunnah?’ Jika ia memiliki pahala solat sunnah, Allah mengatakan, ‘genapkanlah amalan wajib hamba-Ku dari amalan sunnahnya.’ Seperti itulah amalan-amalan dihitung.” (HR Abu Dawud)

Wallahu a’lam.
Muhammad bin Shalih Al-Munajjid

Alih bahasa: Abu Hamzah As-Surbawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar