Rabu, 22 Juli 2015

Menunggu Tanpa Menunggu




Menunggu itu melelahkan, bukan?

Menunggu ayah pulang ke rumah
Menunggu ibu selesai memasak
Menunggu saudara jauh yang akan datang
Menunggu waktu berbuka
Menunggu idul fitri
Sesederhana itu

Debar kencang menunggu saat-saat ujian
Buncah perasaan menunggu kelulusan
Gugup menunggu stakeholder mengambil keputusan
Sesak menunggunya di persimpangan jalan
Tenang menunggu kematian
Sederhana?

Ya, sederhana
Karena menunggu adalah menunggu jika itu kau anggap menunggu
Untuk apa kau menganggap menunggumu sebagai menunggu, jika anggapanmu itu hanya mengganggu?

"Jika memang berharga, maka penantianmu tak sebanding, adikku."
"Hanya dua kali revolusi bumi, nak. Betapa singkatnya. Lalu kau bisa mulai menanam ketika matahari terikkan sinarnya di atas negeri para nabi."
Menunggu?

 "Untuk apa kau menunggu?"
"Karena yang berharga memang pantas ditunggu dan diperjuangkan."
"Naif. Itulah salahmu."
"Salah?"
"Untuk apa kau ributkan soal menunggu? Permasalahannya ada pada penamaan menunggu. Diam saja. Hidup dan menghidupilah. Tak akan terasa.  Teruslah berjalan. Tak ada yang tahu, apa yang akan kau temui di persimpangan jalan itu. Ketika malam seribu bulan mendekat di bilangan tahun yang genap."

Karena menunggu adalah menunggu jika itu kau anggap menunggu
Jangan namakan itu menunggu hingga sesakkan hatimu
Ya, yakin dengan pembagian yang tak tertukar dari Rabbmu.
 _________________________

As-Surbawi
7 Syawwal 1436
Ketika matahari mengintimidasi

sumber gambar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar