Suatu sore pada hari libur kuliah, kuikut ayah ke kota, eh maaf
gagal fokus. Maksud saya, suatu sore pada hari libur kuliah, ada seorang
pelajar yang memasuki sebuah masjid. Masjid yang besar dan indah.
Terbesar di kota *sensor*.
Pelajar itu melaksanakan solat
tahiyatul masjid lalu duduk. Menikmati suasana sore yang nyaman di
masjid tersebut. Dia sedang menunggu seseorang.
"Assaalamu'alaikum akhi.."
"Wa'alaikumussalaam. Eh masbro ayo sini. Ana dah nungguin antum dari tadi."
"Eh iya. 'afwan ya. Ana dari rumah saudara. Oke deh. Kita mulai sekarang?"
"Yoi. Antum ada bukunya kan?"
"Ada. Sip. Bismillah. Alhamdulillah. Wash shalaatu was salaamu 'ala rosulillah. Wa ba'du... (mulai menjelaskan pelajaran)"
Sore yang menyenangkan. Angin sepoi-sepoi, udara yang segar, dan tempat
yang nyaman seakan menjadi bumbu penyedap mudzakaroh kedua pelajar itu.
Satu senior, satu yunior. Kelas mereka tidak terpaut jauh.
Si
yunior minta tolong pada si senior untuk membantunya memahami salah satu
"mata kuliah" di kampusnya. Walau mungkin tidak bisa disebut mata
kuliah bagi si yunior. Karena si yunior masih harus menunggu beberapa
semester lagi sebelum ilmu itu diajarkan di kelasnya. Tapi...
"Yah, kalo nunggu sampe segitu ana bisa kesalip temen-temen yang umum
mas. Gilak mereka cepet banget belajarnya. Jadi ikut kepacu nih ane!"
Begitu seringkali yang dia ungkapkan ketika ditanya, "Ngapain ente belajar ilmu ini? Kan kagak masuk matkul bro!"
.....................................
Akhirnya majelis mereka selesai. Begitu "simpel". Ringkas dan
menyenangkan. Waktu luang sebelum kembali ke rumah masing-masing mereka
gunakan untuk berdiskusi. Hingga menyinggung pembahasan itu.
"Eh mas."
"Hm?"
"Coba antum liat tiang-tiang yang ada di masjid ini."
"Emang tiangnya kenapa?"
"Sepi mas..."
"Maksud antum?"
"Ndak ada kajian sama sekali. Padahal ini masjid pewe maksimal gini.
Udah tempatnya tenang, cozy, adem, de el el. Pokoknya kondusif banget
dah. Tapi kok rasanya ndak dimanfaatken secara maksimal ya. Potensi yang
terbengkalai.."
"Ya gmana lagi akh? Sulit memang. Banyak halangan. Memangnya antum maunya kayak gmana?"
"Ana punya cita-cita. Coba deh antm bayangin. Di tiang pojok sana, ada
kajian tafsir ibnu katsir. Tiang yang situ, kajian shahih bukhari. Tiang
yang ini, kajian shahih muslim. Terus di pojok sana ada kajian kitab A.
Sananya lagi kitab B. Bagian situ ada halaqoh tahfizh, bahasa arab, dan
sebagainya. Wih coba antm bayangin deh. Seru gak tuh?"
"Iya juga ya. Subhanallah, Tapi apa bisa? Kota besar kayak gini?"
"Eh antm kok udah pesimis duluan mas bro? Nggak boleh tuh. Harus
optimis. Santai aja, semua dimulai dari mimpi toh? Yang penting sekarang
kita mimpi dulu hehe. Insyaa Allah, kelak impian itu akan terwujud."
"Makanya antm belajar yang rajin..."
"Lhah, Antm juga dong masbro. Saling mengingatkan yak. Tanggung jawab
yang berat jangan dipikul sendirian. Saling membantu. Baarokallahu
fiik."
"Ya insya Allah. Baarokallahu fiik."
______________________________________
Percakapan sambil lalu dua orang pemuda. Tidakkah anda ingin Allah
memberkahi negeri kita? Mencurahkan berkah hingga negeri ini sejahtera.
Penduduknya bahagia di dunia, mati masuk surga. Perhatikan
sekelilingmu, saudaraku. Sudah banyak saudara kita yang meniti jalan
kebenaran. Tidakkah engkau ingin mengikuti? Tidakkah engkau ingin turut
berpartisipasi?
Mari ikut dalam kafilah ini. Kafilah perbaikan.
Anda tidak perlu registrasi dan bayar uang iuran. Ngapz? Hanya,
pastikanlah bahwa anda berada di jalan yang benar. Sebagaimana yang
diwasiatkan oleh Sang Nabi,
Mari, saudaraku. Pelajarilah tentang jalan itu. Jalan kebenaran. Menuju kebangkitan umat islam. Meraih ridho Ar-Rahman.
Dan.. ya. Dari sinilah... Dari sinilah kebangkitan itu dimulai.
Kebangkitan itu dimulai... dari Tiang-tiang Peradaban
_______________________________________
4 Dzulhijjah 1435
Jakarta, batu loncatan sebelum melompat lebih jauh.
https://www.facebook.com/ardantyo.sidohutomo/posts/10203042442797708?ref=notif¬if_t=like