Ketika akan lulus SMA, hal yang sering ada di pikiran para siswa adalah "aku akan kuliah di mana?"
Sebuah pertanyaan klasik. Pilihan itu -tentu saja- kembali ke individu masing-masing. Baik pilihan itu didasari keinginan mereka sendiri, orang tua, atau bahkan pilihan yang "terpaksa" karena keadaan yang ada menuntut demikian. Di masa kuliah, seorang mahasiswa dituntut untuk meningkatkan pengembangan dirinya. Lebih dari pengembangan dirinya ketika SMA.
Kenapa? Karena masa-masa kuliah adalah masa terakhir dimana seseorang dapat belajar secara efektif. Ketika seseorang telah terjun secara langsung ke masyarakat atau masuk ke "dunia kerja", ia akan mulai kehilangan hal-hal yang mendukung kegiatan pengembangan dirinya. Memang, ini tidak mutlak untuk semua orang. Ada pula orang-orang yang justru dapat meningkatkan potensi diri mereka secara maksimal ketika mereka sudah berperan penuh di masyarakat.
Tetapi, tidak bisa kita pungkiri bahwa disana memang ada hal-hal yang takkan kita dapati lagi setelah lulus kuliah. Waktu senggang yang "lebih", belum membina keluarga, fisik yang prima, dan pikiran yang lebih aktif adalah sekelumit dari hal-hal tersebut.
Di antara bidang yang menurut penulis membutuhkan kesadaran ini adalah bidang agama. Lebih khusus lagi, penuntut ilmu agama yang belajar lewat jalur formal. Entah itu di luar negeri atau di dalam negeri. Betapa banyak penuntut ilmu agama formal di jaman ini yang seakan tidak sadar bahwa masa tidak akan terulang kembali.
Bertahun-tahun yang mereka habiskan di pondok pesantren ditambah kuliah selama beberapa tahun di perguruan tinggi tidak menjamin mereka keluar sebagai ulama.
Ke mana semua ilmu itu? Seakan berkah telah tercerabut.
Ke mana semua ilmu itu? Seakan berkah telah tercerabut.
Saya tidak ingin mendikte. Saya sendiri masih belajar. Tapi di sini ada satu hal yang saya garis-bawahi.
Batasan.
Sesuatu yang dinamakan kurikulum terkadang menjadi penghalang bagi seorang pelajar untuk berkembang. Saya menyaksikan sendiri, seorang pelajar menjalani 2 semester perkuliahan dengan jadwal libur begitu banyak tidak mendapatkan pertambahan ilmu yang berarti. Bagaimana tidak? Semua teori telah mereka serap di sekolah mereka sebelumnya. Mereka mendaftar di bagian itu dengan alasan "meningkatkan ketajaman". Padahal, jelas-jelas beberapa guru tidak mengajari mereka secara sesuai. Hanya ingin menyenangkan hati mereka. Memberi materi serta soal yang mudah. Menganggap mereka seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
Parahnya lagi, mereka seakan tidak memiliki gairah untuk mencari ilmu tambahan selain yang diajarkan di dalam kelas. Apa-apaan ini? Beginikah para ahli agama dahulu mengajarkan?
Tidakkah mereka melihat? Di luar sana, kawan-kawan mereka yang tidak mempelajari agama secara khusus mendatangi masjid-masjid. Di tengah-tengah kesibukan mereka yang sangat padat. Mereka berusaha keras untuk mempelajari islam. Mereka belajar membaca Al-Qur'an, lalu mulai menghafalnya. Mereka belajar bahasa arab, lalu mulai menggunakannya untuk meningkatkan pengetahuan tentang agama islam. Lulusan pondok bertahun-tahun ilmunya sama dengan yang baru belajar sekali-dua. Miris.
Mereka lebih semangat belajar. Lebih semangat beramal. Lebih semangat berdakwah. Lebih pintar. Lebih kritis. Lebih, ini, lebih itu, lebih . .
Sampai kapan kita akan terus tertidur kawan?
Bagaimana mungkin kita akan mencukupkan diri dengan pelajaran di kelas, sedangkan umat membutuhkan seseorang yang menjawab pertanyaan mereka berdasarkan hukum-hukum langit?
Saya tegaskan sekali lagi.
Apa yang kita pelajari di kelas tidak akan cukup!
Bangunlah, saudaraku, mari kita buka mata kita. Kembangkan diri kita. Ribuan di sana kitab ulama. Menanti untuk kita telaah. Kita pahami. Lalu kita sampaikan pada umat.
Jangan jadikan kurikulum sebagai pembatas kelincahan karier ilmiah kita. Jadikan hidup kita ini sebagai wahana belajar. Hidup kita seluruhnya untuk beribadah. Tidak perlu lah kita batasi belajar hanya apa yang diajarkan di kelas. Jika di kelas kita membahas materi A hanya 10%, maka bacalah puluhan referensi yang membahas materi itu. Bandingkan. Simpulkan. Bila perlu buat tulisan. Setelah itu, diskusikan dengan dosen serta kawan-kawanmu.
Ingat, saudaraku. Umat ini membutuhkan orang yang mendidik mereka dengan benar. Apa kau lupa tugas kita sebagi pewaris para nabi? Apa kau lupa tanggung jawab super berat kita untuk "menggantikan" posisi nabi di tengah umat ini?
Camkan ini, saudaraku.
Umat membutuhkan ulama rabbani. Bukan Lc.
sumber gambar: http://www.officialpsds.com/images/thumbs/Jail-Cell-Bars-psd52403.png

Tidak ada komentar:
Posting Komentar