"Hmm. Kayaknya kalo FB-an enak deh."
"Atau buka twitter aja ya?"
________________________________________________
Setiap manusia memiliki jatah waktu yang sama setiap harinya. 24 jam. Waktu adalah modal utama bagi seorang hamba untuk meraih keberhasilan di dunia dan akhirat. Perlakuan seorang hamba terhadap waktu yang diberikan kepadanya akan menentukan balasannya kelak.
Apa yang akan kita lakukan pada detik ini? Setiap orang memiliki kecenderungan yang berbeda. Penggunaan waktu luang setiap individu memang berbeda-beda. Ada yang menyukai untuk menghabiskan waktu dengan bermain, membuka jejaring sosial, bekerja, belajar, dan pilihan kegiatan lainnya.
Masalahnya, bagaimana agar kita menjadikan setiap detik dari waktu yang ada untuk mencapai tujuan hidup?
Di antara pilihan-pilihan itu, pasti ada pekerjaan yang lebih utama untuk kita lakukan. Sesuatu yang dapat kita jadikan sebagai alasan di hadapan Allah kelak. Karena itulah, kita tidak boleh asal melakukan sesuatu. Minimal harus kita perhitungkan. Satu detik yang berharga. Satu detik yang tidak akan pernah kembali lagi. Apakah lantas kita buang percuma?
Betapa banyak orang yang dengan santai menghabiskan waktunya di jejaring sosial. Menatap layar selama berjam-jam. Memang, menggunakan jejaring sosial untuk dakwah adalah sesuatu yang terpuji. Tetapi, hendaknya kita bertanya pada diri kita masing-masing. Apakah benar kita melakukan sesuatu itu untuk Allah? Atau kita melakukannya hanya untuk kepuasan pribadi?
Akan lebih indah apabila kita log-in jejaring sosial hanya untuk menyebarkan meski seretas kebaikan. Entah kutipan ayat, hadits, atau hikmah para ulama. Lantas setelah itu kita kembali ke kehidupan nyata. Kembali membaca Al-Qur'an, Al-Hadits, menelaah kitab para ulama, bekerja, berdakwah di dunia nyata, dan lain sebagainya. Bukankah kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan di dunia nyata dan bukan dunia maya?
Masyarakat kita membutuhkan kontribusi yang aplikatif. Jangan sampai kita hanya bisa berteriak-teriak di jejaring sosial tetapi kita tidak mengusahakan ladang amal di alam yang sesungguhnya. Kesempatan itu terbuka lebar. Keluarga, sanak kerabat, dan tetangga adalah sekelumit dari ladang dakwah yang menunggu untuk kita "garap".
Belum lagi masjid-masjid yang sepi, TPA-TPA yang belum memiliki arah serta sistem pendidikan yang sistematis, sekolah-sekolah, kampus, kantor-kantor, dan banyak ladang lainnya. Bukankah tempat-tempat itu membutuhkan orang yang rela bekerja keras untuk menyuburkan nilai-nilai islam di sana?
Jangan sampai tempat "opsional" menjadikan kita lupa akan medan pertempuran yang sesungguhnya.
Umat menunggu kontribusi kita, kawan.
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
"Dan Katakanlah: "Bekerjalah
kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat
pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang
Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada
kamu apa yang telah kamu kerjakan." (At-Taubah : 105)
sumber gambar: http://www.chocolate-fish.net/albums/Turkey/Istanbul_Mosques/Istanbul-Mosque-silhuette-sunset.jpg

Tidak ada komentar:
Posting Komentar