"Siapa
anda?"
"Saya
hanya hamba Allah biasa. Tidak lebih."
Begitulah
keadaan para ulama. Tak ingin sorotan kamera. Tak ingin sebutan nama di kabar
berita. Tak ingin sebutan "Syekh", "Ngallaamah", "Wak Kaji",
atau sekedar "tadz" (terlepas yg dimaksud ustadz atau mencetadz).
Lirikan
mata para wanita tidak berarti bagi mereka. Gelimang harta dunia buat mereka
menangis takut pada-Nya
Lalu
apa?
Apa
yg mereka inginkan?
Ridho
Ar-Rahman.
Ahli
ilmu di antara mereka, menjalani hari dengan menyeru ke jalan-Nya.
Ahli
jihad di antara mereka, pikirkan segala cara tuk tegakkan agama-Nya.
Para
kuffar bergidik ngeri. "Kenapa mereka tidak takut mati?"
Dan
ketika malam mulai bentangkan selendangnya, mereka bersiap. Temani bintang,
mereka hiasi malam-malam. Tidak. Bahkan bintang menghiasi langit, sedangkan mereka
menghiasi bumi karena merekalah bintang yang berjalan di hamparannya..
"Allahu
akbar . . ."
Dan
mulailah melantun. Ayat-ayat itu. Wahyu-wahyu langit. Tidak ada yang terdengar
kecuali sebuah suara layaknya dengungan lebah. Serta sesengguk tangisan yang tertahan
agaknya. "Rabbi . . . Jika bukan kepada-Mu, kepada siapa lagi kami harus
mengiba?"
Duhai,
akankah itu hanya menjadi fatamorgana masa lalu?
Tidak
perlu lisanmu repot menjawab. Cukup bukti. Ya, buktikan dengan laku amalmu.
Bangkitlah,
wahai singa-singa Allah . . .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar