Sabtu, 24 Mei 2014

Singa pun Hamba Allah





"Siapa anda?"
"Saya hanya hamba Allah biasa. Tidak lebih."

Begitulah keadaan para ulama. Tak ingin sorotan kamera. Tak ingin sebutan nama di kabar berita. Tak ingin sebutan "Syekh", "Ngallaamah", "Wak Kaji", atau sekedar "tadz" (terlepas yg dimaksud ustadz atau mencetadz).

Lirikan mata para wanita tidak berarti bagi mereka. Gelimang harta dunia buat mereka menangis takut pada-Nya

Lalu apa?
Apa yg mereka inginkan?

Ridho Ar-Rahman.

Ahli ilmu di antara mereka, menjalani hari dengan menyeru ke jalan-Nya.
Ahli jihad di antara mereka, pikirkan segala cara tuk tegakkan agama-Nya.
Para kuffar bergidik ngeri. "Kenapa mereka tidak takut mati?"

Dan ketika malam mulai bentangkan selendangnya, mereka bersiap. Temani bintang, mereka hiasi malam-malam. Tidak. Bahkan bintang menghiasi langit, sedangkan mereka menghiasi bumi karena merekalah bintang yang berjalan di hamparannya..

"Allahu akbar . . ."

Dan mulailah melantun. Ayat-ayat itu. Wahyu-wahyu langit. Tidak ada yang terdengar kecuali sebuah suara layaknya dengungan lebah. Serta sesengguk tangisan yang tertahan agaknya. "Rabbi . . . Jika bukan kepada-Mu, kepada siapa lagi kami harus mengiba?"

Duhai, akankah itu hanya menjadi fatamorgana masa lalu?

Tidak perlu lisanmu repot menjawab. Cukup bukti. Ya, buktikan dengan laku amalmu.

Bangkitlah, wahai singa-singa Allah . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar