::: Apa yang Saya Inginkan? Bagaimana Cara Mendapatkannya? :::
Menulis adalah hal yang menyenangkan. Ianya merupakan pekerjaan dengan serumpun kebaikan. Begitu pula sebuah tulisan berpotensi catatkan kejelekan. Tergantung apa yang penulis wujudkan.
Sebuah tulisan pasti memiliki sumber inspirasi. Entah itu bacaan, kejadian, atau sekedar lintasan pikiran. Apapun yang masuk ke diri seseorang berpotensi untuk dijadikan bahan tulisan.
Bacaan, misalnya. Apakah semua jenis bacaan bisa dijadikan bahan untuk menulis? Tentu tidak. Lalu, buku seperti apa? Semua kembali ke tujuan awal penulisan.
Saya mengambil sebuah buku dan membacanya Saya menginginkan sesuatu dari bacaan saya. Sebuah hasil. Dengan adanya tujuan ini saya memastikan agar bacaan saya tidak sia-sia. Penentuan tujuan ini sangat penting. Apapun yang anda lakukan tanpa tujuan yang jelas tidak akan membuahkan hasil yang maksimal.
Menentukan tujuan dari sebuah bacaan memerlukan sedikit pemahaman tentang apa yang akan anda baca. Novel, misalnya. Apa yang ingin anda hasilkan dari membaca sebuah novel? Tentu sulit jika anda mengatakan "Saya ingin menghafal al-qur'an". Lantas buku yang anda baca sehari-hari adalah novel percintaan tanpa landasan agama. Tanpa membaca Al-Qur'an. Bagaimana mungkin anda akan meraih tujuan itu?
"Saya ingin mengasah kemampuan saya dalam meliukkan pena", adalah tujuan yang lebih tepat. Usahakan memilih novel yang benar-benar berbobot. Pertimbangkan plus-minusnya, lalu mulailah membaca. Semoga anda mendapatkan apa yang anda inginkan dan dapat menjadikannya bermanfaat.
Di lain waktu, anda ingin menulis sebuah pembahasan tentang hukum agama islam. Anda ambil biografi seorang tokoh atheis dan menjadikan pemikirannya sebagai basis tulisan anda. Kacau. Sejak kapan seorang yang buta kita minta mendeskripsikan warna dari benda yang tidak pernah dia lihat?
Ambillah warisan para ulama. Telitilah dengan cermat. Sabar. Karena ia membutuhkan paduan serasi ikhlas dan ittiba'. Ketulusan dan kepiawaian dalam mengambil kesimpulan dari dalil-dalil yang ada. Setelah sampai pada sebuah kesimpulan, jadilah anda pengamal yang pertama. Memangnya anda belajar ilmu agama hanya untuk pajangan?
Begitu seterusnya. Pastikan anda telah menentukan apa tujuan anda serta cara yang tepat untuk menggapai tujuan tersebut sebelum anda memulai sebuah pekerjaan.
::: Pemasukan Pengaruhi Pengeluaran :::
Apa yang anda rasakan ketika membaca novel berbahasa Indonesia?
Apa yang anda rasakan ketika membaca kitab tafsir, hadits, fiqh, atau kitab karangan ulama secara umum?
Mungkin kita tidak sama.
Tapi jika pertanyaan itu ditujukan pada saya, saya akan jawab,
"PERBEDAAN YANG MENCOLOK!"
Sebuah perbandingan kecil,
Dalam waktu setengah jam:
- Novel: 50 halaman terlewati. Paham sepenuhnya.
- Fathul Bari syarh shahih bukhari: 2-3 lembar. Masih mumet. Harus baca berulang-ulang
Berat? Iya.
Lelah? Memang.
Sendiri? Dari dulu.
Tapi, mari kita bertanya pada diri sendiri.
Bagaimanakah perbandingan hasilnya?
Perincian tak perlu disebutkan. Lihat saja para pejuang Islam yang Allah muliakan ketika hidup dan setelah kematian mereka. Apa yang sering mereka baca hingga mereka menjadi seperti itu? Novel yang termehek-mehek? Majalah anak muda yang penuh gambar seronok? Ataukah Al-Qur'an, Al-Hadits, dan buku para ulama?
Bagaimana tidak? Adakah yang lebih baik dari Kalamullah? Dan adakah yang lebih mulia di antara manusia dari para nabi dan pewaris mereka?
Demi Allah. Tidak ada.
Bacaan yang ringan menjadikan anda hanya mengeluarkan yang ringan-ringan. Tidak berisi. Remeh. Begitu pula bacaan yang berat. Mendorong anda untuk menghasilkan karya yang berbobot pula. Bertabur dalil. Mengajak berpikir. Apakah alasan ini tidak cukup untuk membuat kita menyeleksi apa yang akan kita baca?
Ini hanya sebuah catatan kerdil. Sekerdil penulisnya. Membaca novel atau karya sastra berbahasa Indonesia bukan hal yang terlarang. Ia bisa juga bermanfaat untuk memaniskan hasil tulisan kita. Tapi jangan lupakan inti dari ilmu. Jangan sampai cerita yang bagus itu memalingkan kita dari Al-Qur'an, As-Sunnah, dan warisan para ulama. Sumber-sumber tulah lentera cahaya yang sesungguhnya. Terang-benderang. Menuntun kita tuk amalkan kebenaran.
Kita tidak akan pernah menjadi penegak agama-Nya selama kita enggan meneguk ilmu yang murni. Langsung dari sumber asli. Jika kita terus bermain dengan ucapan manusia tak berdasar, bagaimana pula kita akan menyatukan umat yang hampir jatuh terkapar?
Bangkit.
Bangkit.
Bangkit.
Raihlah kitab-kitab itu.
Baca.
Amalkan.
Dakwahkan.
Sabar.
Perumahan Pondok Indah, Jakarta Selatan.
18/7/1435 21.25 WIB
sumber gambar: http://almakkiyat.files.wordpress.com/2010/03/fathulbari1.jpg