Sabtu, 24 Mei 2014

Singa pun Hamba Allah





"Siapa anda?"
"Saya hanya hamba Allah biasa. Tidak lebih."

Begitulah keadaan para ulama. Tak ingin sorotan kamera. Tak ingin sebutan nama di kabar berita. Tak ingin sebutan "Syekh", "Ngallaamah", "Wak Kaji", atau sekedar "tadz" (terlepas yg dimaksud ustadz atau mencetadz).

Lirikan mata para wanita tidak berarti bagi mereka. Gelimang harta dunia buat mereka menangis takut pada-Nya

Lalu apa?
Apa yg mereka inginkan?

Ridho Ar-Rahman.

Ahli ilmu di antara mereka, menjalani hari dengan menyeru ke jalan-Nya.
Ahli jihad di antara mereka, pikirkan segala cara tuk tegakkan agama-Nya.
Para kuffar bergidik ngeri. "Kenapa mereka tidak takut mati?"

Dan ketika malam mulai bentangkan selendangnya, mereka bersiap. Temani bintang, mereka hiasi malam-malam. Tidak. Bahkan bintang menghiasi langit, sedangkan mereka menghiasi bumi karena merekalah bintang yang berjalan di hamparannya..

"Allahu akbar . . ."

Dan mulailah melantun. Ayat-ayat itu. Wahyu-wahyu langit. Tidak ada yang terdengar kecuali sebuah suara layaknya dengungan lebah. Serta sesengguk tangisan yang tertahan agaknya. "Rabbi . . . Jika bukan kepada-Mu, kepada siapa lagi kami harus mengiba?"

Duhai, akankah itu hanya menjadi fatamorgana masa lalu?

Tidak perlu lisanmu repot menjawab. Cukup bukti. Ya, buktikan dengan laku amalmu.

Bangkitlah, wahai singa-singa Allah . . .

Rabu, 21 Mei 2014

Kurungan Resmi



Ketika akan lulus SMA, hal yang sering ada di pikiran para siswa adalah "aku akan kuliah di mana?"

Sebuah pertanyaan klasik. Pilihan itu -tentu saja- kembali ke individu masing-masing. Baik pilihan itu didasari keinginan mereka sendiri, orang tua, atau bahkan pilihan yang "terpaksa" karena keadaan yang ada menuntut demikian. Di masa kuliah, seorang mahasiswa dituntut untuk meningkatkan pengembangan dirinya. Lebih dari pengembangan dirinya ketika SMA.

Kenapa? Karena masa-masa kuliah adalah masa terakhir dimana seseorang dapat belajar secara efektif. Ketika seseorang telah terjun secara langsung ke masyarakat atau masuk ke "dunia kerja", ia akan mulai kehilangan hal-hal yang mendukung kegiatan pengembangan dirinya. Memang, ini tidak mutlak untuk semua orang. Ada pula orang-orang yang justru dapat meningkatkan potensi diri mereka secara maksimal ketika mereka sudah berperan penuh di masyarakat.

Tetapi, tidak bisa kita pungkiri bahwa disana memang ada hal-hal yang takkan kita dapati lagi setelah lulus kuliah. Waktu senggang yang "lebih", belum membina keluarga, fisik yang prima, dan pikiran yang lebih aktif adalah sekelumit dari hal-hal tersebut.

Di antara bidang yang menurut penulis membutuhkan kesadaran ini adalah bidang agama. Lebih khusus lagi, penuntut ilmu agama yang belajar lewat jalur formal. Entah itu di luar negeri atau di dalam negeri. Betapa banyak penuntut ilmu agama formal di jaman ini yang seakan tidak sadar bahwa masa tidak akan terulang kembali. 

Bertahun-tahun yang mereka habiskan di pondok pesantren ditambah kuliah selama beberapa tahun di perguruan tinggi tidak menjamin mereka keluar sebagai ulama.

Ke mana semua ilmu itu? Seakan berkah telah tercerabut. 

Saya tidak ingin mendikte. Saya sendiri masih belajar. Tapi di sini ada satu hal yang saya garis-bawahi.

Batasan.

Sesuatu yang dinamakan kurikulum terkadang menjadi penghalang bagi seorang pelajar untuk berkembang. Saya menyaksikan sendiri, seorang pelajar menjalani 2 semester perkuliahan dengan jadwal libur begitu banyak tidak mendapatkan pertambahan ilmu yang berarti. Bagaimana tidak? Semua teori telah mereka serap di sekolah mereka sebelumnya. Mereka mendaftar di bagian itu dengan alasan "meningkatkan ketajaman". Padahal, jelas-jelas beberapa guru tidak mengajari mereka secara sesuai. Hanya ingin menyenangkan hati mereka. Memberi materi serta soal yang mudah. Menganggap mereka seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Parahnya lagi, mereka seakan tidak memiliki gairah untuk mencari ilmu tambahan selain yang diajarkan di dalam kelas. Apa-apaan ini? Beginikah para ahli agama dahulu mengajarkan? 

Tidakkah mereka melihat? Di luar sana, kawan-kawan mereka yang tidak mempelajari agama secara khusus mendatangi masjid-masjid. Di tengah-tengah kesibukan mereka yang sangat padat. Mereka berusaha keras untuk mempelajari islam. Mereka belajar membaca Al-Qur'an, lalu mulai menghafalnya. Mereka belajar bahasa arab, lalu mulai menggunakannya untuk meningkatkan pengetahuan tentang agama islam. Lulusan pondok bertahun-tahun ilmunya sama dengan yang baru belajar sekali-dua. Miris.

Mereka lebih semangat belajar. Lebih semangat beramal. Lebih semangat berdakwah. Lebih pintar. Lebih kritis. Lebih, ini, lebih itu, lebih . . 

Sampai kapan kita akan terus tertidur kawan?

Bagaimana mungkin kita akan mencukupkan diri dengan pelajaran di kelas, sedangkan umat membutuhkan seseorang yang menjawab pertanyaan mereka berdasarkan hukum-hukum langit?

Saya tegaskan sekali lagi.

Apa yang kita pelajari di kelas tidak akan cukup!

Bangunlah, saudaraku, mari kita buka mata kita. Kembangkan diri kita. Ribuan di sana kitab ulama. Menanti untuk kita telaah. Kita pahami. Lalu kita sampaikan pada umat.

Jangan jadikan kurikulum sebagai pembatas kelincahan karier ilmiah kita. Jadikan hidup kita ini sebagai wahana belajar. Hidup kita seluruhnya untuk beribadah. Tidak perlu lah kita batasi belajar hanya apa yang diajarkan di kelas. Jika di kelas kita membahas materi A hanya 10%, maka bacalah puluhan referensi yang membahas materi itu. Bandingkan. Simpulkan. Bila perlu buat tulisan. Setelah itu, diskusikan dengan dosen serta kawan-kawanmu.

Ingat, saudaraku. Umat ini membutuhkan orang yang mendidik mereka dengan benar. Apa kau lupa tugas kita sebagi pewaris para nabi? Apa kau lupa tanggung jawab super berat kita untuk "menggantikan" posisi nabi di tengah umat ini?

Camkan ini, saudaraku.

Umat membutuhkan ulama rabbani. Bukan Lc. 


sumber gambar: http://www.officialpsds.com/images/thumbs/Jail-Cell-Bars-psd52403.png

Hanya Pendapat

Saya meminta maaf kalau kebanyakan posting saya hanya tentang pendapat-pendapat. Minim sumber. Minim "dalil". Saya hanya seorang manusia yang berusaha untuk terus belajar. Menyadari kebodohan. Kekerdilan.

Keadaan yang saya jalani menuntut saya untuk lebih banyak berinteraksi dengan manusia. Disamping memaksimalkan kualitas interaksi dengan Pencipta manusia. Saya hanya ingin melatih kemampuan saya dalam menyampaikan pendapat. Mungkin sekarang tidak ada yang membaca blog ini. Siapa pula yang perduli dengan "anak yang meringkuk di pojok ruangan"?

Tapi, suatu saat. Ya, suatu saat. Bagaimana saya menggunakan setiap detik yang ada akan memengaruhi kelanjutan saya. Semoga ini pilihan tepat..

Waffaqonallah.   




sumber gambar: http://www.townsquarebuzz.com/wp-content/uploads/2013/07/opinion.jpg

Selasa, 20 Mei 2014

Detik-detik yang Terlewatkan

"Enaknya sekarang ngapain ya?"

"Hmm. Kayaknya kalo FB-an enak deh."

"Atau buka twitter aja ya?"
________________________________________________

Setiap manusia memiliki jatah waktu yang sama setiap harinya. 24 jam. Waktu adalah modal utama bagi seorang hamba untuk meraih keberhasilan di dunia dan akhirat. Perlakuan seorang hamba terhadap waktu yang diberikan kepadanya akan menentukan balasannya kelak.

Apa yang akan kita lakukan pada detik ini? Setiap orang memiliki kecenderungan yang berbeda. Penggunaan waktu luang setiap individu memang berbeda-beda. Ada yang menyukai untuk menghabiskan waktu dengan bermain, membuka jejaring sosial, bekerja, belajar, dan pilihan kegiatan lainnya. 

Masalahnya, bagaimana agar kita menjadikan setiap detik dari waktu yang ada untuk mencapai tujuan hidup? 

Di antara pilihan-pilihan itu, pasti ada pekerjaan yang lebih utama untuk kita lakukan. Sesuatu yang dapat kita jadikan sebagai alasan di hadapan Allah kelak. Karena itulah, kita tidak boleh asal melakukan sesuatu. Minimal harus kita perhitungkan. Satu detik yang berharga. Satu detik yang tidak akan pernah kembali lagi. Apakah lantas kita buang percuma?

Betapa banyak orang yang dengan santai menghabiskan waktunya di jejaring sosial. Menatap layar selama berjam-jam. Memang, menggunakan jejaring sosial untuk dakwah adalah sesuatu yang terpuji. Tetapi, hendaknya kita bertanya pada diri kita masing-masing. Apakah benar kita melakukan sesuatu itu untuk Allah? Atau kita melakukannya hanya untuk kepuasan pribadi? 

Akan lebih indah apabila kita log-in jejaring sosial hanya untuk menyebarkan meski seretas kebaikan. Entah kutipan ayat, hadits, atau hikmah para ulama. Lantas setelah itu kita kembali ke kehidupan nyata. Kembali membaca Al-Qur'an, Al-Hadits, menelaah kitab para ulama, bekerja, berdakwah di dunia nyata, dan lain sebagainya. Bukankah kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan di dunia nyata dan bukan dunia maya?

Masyarakat kita membutuhkan kontribusi yang aplikatif. Jangan sampai kita hanya bisa berteriak-teriak di jejaring sosial tetapi kita tidak mengusahakan ladang amal di alam yang sesungguhnya. Kesempatan itu terbuka lebar. Keluarga, sanak kerabat, dan tetangga adalah sekelumit dari ladang dakwah yang menunggu untuk kita "garap". 

Belum lagi masjid-masjid yang sepi, TPA-TPA yang belum memiliki arah serta sistem pendidikan yang sistematis, sekolah-sekolah, kampus, kantor-kantor, dan banyak ladang lainnya. Bukankah tempat-tempat itu membutuhkan orang yang rela bekerja keras untuk menyuburkan nilai-nilai islam di sana? 

Jangan sampai tempat "opsional" menjadikan kita lupa akan medan pertempuran yang sesungguhnya.

Umat menunggu kontribusi kita, kawan.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

"Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (At-Taubah : 105)



sumber gambar: http://www.chocolate-fish.net/albums/Turkey/Istanbul_Mosques/Istanbul-Mosque-silhuette-sunset.jpg 

Senin, 19 Mei 2014

Menunggu Dalil


Seringnya seperti ini:

Ikhwan (atau akhwat) pengajian ---» Bisa bahasa arab ---» Hafal sebagian dari Kitabullah ---» Hafal sebagian hadits ---» Memiliki "secuil" wawasan tentang ilmu agama ---» Kebelet dakwah. 

Secara langsung maupun tulisan. Atau memang dari awal hanya ingin memaksimalkan keanggunan lisan dan eloknya tarian jari tangan.

Nah loh. Kalau sudah kebelet gmana? Pengen -banget- nulis. Tapi gimana ya?

"Nggak ada inspirasi . . . "

"Bingung mulai dari mana."

Come on mas bro. Life must go on. Yang harus ditentukan pertama adalah jawaban dari kata tanya "Kenapa?"

Kenapa anda menulis?

Banyak alasan di sana. Dakwah. Mengulang apa yang pernah kita pelajari. Melatih diri. Macam-macam.

Kalau memang tujuan awal anda "hanya" berdakwah, maka waspadalah. Jangan berbicara tentang agama tanpa dasar. Apa anda akan berkoar-koar banyak bicara sedang diri anda sendiri gersang dari aliran sejuk ilmu agama? Lebih baik anda pikirkan itu beribu kali sebelum mencoba.

Tapi. Kalau tujuan awal anda "hanya" mengelokkan permainan pena, kenapa tidak? Comotlah sebuah tema. Liukkan jemari. Nikmati. Jujur, anda akan ketagihan. Kalau anda rasa menginspirasi, cobalah bagikan di tempat semi-umum. Seperti blog, facebook, dan sebagainya. Biarkan orang lain membacanya. Ayolah, belajar menyampaikan pendapat itu bukan sesuatu yang buruk kan?

Baca. Baca. Baca. Bacalah apa yang anda suka tanpa datangkan murka Rabb anda. Kalau kelakuan anda datangkan murka-Nya, apa guna? Terus baca. Dan tulislah. Semoga sebutir yang kau letakkan di situ menjadi pemberat timbangan kebaikanmu di hadapan-Nya.

Perumahan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

11/07/1435 08.56 WIB 

sumber gambar: http://www.dertz.in/wallpapers/files/waiting%201440x1280-554.jpg

Kakak Kelas Dulu Pun Merangkak




Hampir di setiap bidang kita bisa menemui "Para Pendahulu". Mereka yang mendahului kita dalam menekuni bidang itu. Mereka yang lebih dulu menginvestasikan waktu dalam bidang itu. Mereka yang secara umum lebih berpengalaman, lebih banyak pengetahuan, lebih ini, lebih itu. Pokoknya meWAH lah.

Apa kau tahu bagaimana mereka dulu?

Persis! Lihatlah dirimu. Mungkin kau cupu. Pemula. Menyedihkan. Minim pengetahuan. Minim pengalaman. Intinya: menyedihkan.

Lalu kenapa mereka bisa berkilau seperti itu? Jelas. Mereka belajar ketika yang lain istirahat. Mereka beramal ketika yang lain tidur. Berbuat lebih banyak dari yang lain. Beristirahat lebih sedikit dari yang lain.

Hasilnya, lihat. Mereka bermanfaat bagi diri mereka sendiri. Kebermanfaatan mereka bagi orang lain berlimpah ruah. Banyak yang bisa mereka tambal dan sulam. Bahkan banyak dari mereka yang membuat lapak sendiri!

Seandainya dahulu mereka tidak membanting keringat dan memeras tulang, jadi apa mereka kiranya?

Bekerjalah lebih keras, kawan. Persiapkan keselamatan dirimu dan orang-orang yang kau cintai kelak.

Dan lagi.

Apa kau tega membiarkan adik kelasmu kehilangan mercusuar itu?

sumber gambar: http://iyutdmk.files.wordpress.com/2012/03/mercusuar.jpg

Minggu, 18 Mei 2014

Sumber Inspirasi




::: Apa yang Saya Inginkan? Bagaimana Cara Mendapatkannya? :::

Menulis adalah hal yang menyenangkan. Ianya merupakan pekerjaan dengan serumpun kebaikan. Begitu pula sebuah tulisan berpotensi catatkan kejelekan. Tergantung apa yang penulis wujudkan.

Sebuah tulisan pasti memiliki sumber inspirasi. Entah itu bacaan, kejadian, atau sekedar lintasan pikiran. Apapun yang masuk ke diri seseorang berpotensi untuk dijadikan bahan tulisan.

Bacaan, misalnya. Apakah semua jenis bacaan bisa dijadikan bahan untuk menulis? Tentu tidak. Lalu, buku seperti apa? Semua kembali ke tujuan awal penulisan.

Saya mengambil sebuah buku dan membacanya Saya menginginkan sesuatu dari bacaan saya. Sebuah hasil. Dengan adanya tujuan ini saya memastikan agar bacaan saya tidak sia-sia. Penentuan tujuan ini sangat penting. Apapun yang anda lakukan tanpa tujuan yang jelas tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. 

Menentukan tujuan dari sebuah bacaan memerlukan sedikit pemahaman tentang apa yang akan anda baca. Novel, misalnya. Apa yang ingin anda hasilkan dari membaca sebuah novel? Tentu sulit jika anda mengatakan "Saya ingin menghafal al-qur'an". Lantas buku yang anda baca sehari-hari adalah novel percintaan tanpa landasan agama. Tanpa membaca Al-Qur'an. Bagaimana mungkin anda akan meraih tujuan itu? 

"Saya ingin mengasah kemampuan saya dalam meliukkan pena", adalah tujuan yang lebih tepat. Usahakan memilih novel yang benar-benar berbobot. Pertimbangkan plus-minusnya, lalu mulailah membaca. Semoga anda mendapatkan apa yang anda inginkan dan dapat menjadikannya bermanfaat.

Di lain waktu, anda ingin menulis sebuah pembahasan tentang hukum agama islam. Anda ambil biografi seorang tokoh atheis dan menjadikan pemikirannya sebagai basis tulisan anda. Kacau. Sejak kapan seorang yang buta kita minta mendeskripsikan warna dari benda yang tidak pernah dia lihat?

Ambillah warisan para ulama. Telitilah dengan cermat. Sabar. Karena ia membutuhkan paduan serasi ikhlas dan ittiba'. Ketulusan dan kepiawaian dalam mengambil kesimpulan dari dalil-dalil yang ada. Setelah sampai pada sebuah kesimpulan, jadilah anda pengamal yang pertama. Memangnya anda belajar ilmu agama hanya untuk pajangan?

Begitu seterusnya. Pastikan anda telah menentukan apa tujuan anda serta cara yang tepat untuk menggapai tujuan tersebut sebelum anda memulai sebuah pekerjaan.


::: Pemasukan Pengaruhi Pengeluaran  :::

Apa yang anda rasakan ketika membaca novel berbahasa Indonesia?
Apa yang anda rasakan ketika membaca kitab tafsir, hadits, fiqh, atau kitab karangan ulama secara umum?

Mungkin kita tidak sama.
Tapi jika pertanyaan itu ditujukan pada saya, saya akan jawab,

"PERBEDAAN YANG MENCOLOK!"

Sebuah perbandingan kecil,

Dalam waktu setengah jam:
- Novel: 50 halaman terlewati. Paham sepenuhnya.
- Fathul Bari syarh shahih bukhari: 2-3 lembar. Masih mumet. Harus baca berulang-ulang

Berat? Iya.
Lelah? Memang.
Sendiri? Dari dulu.

Tapi, mari kita bertanya pada diri sendiri.
Bagaimanakah perbandingan hasilnya?

Perincian tak perlu disebutkan. Lihat saja para pejuang Islam yang Allah muliakan ketika hidup dan setelah kematian mereka. Apa yang sering mereka baca hingga mereka menjadi seperti itu? Novel yang termehek-mehek? Majalah anak muda yang penuh gambar seronok? Ataukah Al-Qur'an, Al-Hadits, dan buku para ulama?

Bagaimana tidak? Adakah yang lebih baik dari Kalamullah? Dan adakah yang lebih mulia di antara manusia dari para nabi dan pewaris mereka? 

Demi Allah. Tidak ada.

Bacaan yang ringan menjadikan anda hanya mengeluarkan yang ringan-ringan. Tidak berisi. Remeh. Begitu pula bacaan yang berat. Mendorong anda untuk menghasilkan karya yang berbobot pula. Bertabur dalil. Mengajak berpikir. Apakah alasan ini tidak cukup untuk membuat kita menyeleksi apa yang akan kita baca?

Ini hanya sebuah catatan kerdil. Sekerdil penulisnya. Membaca novel atau karya sastra berbahasa Indonesia bukan hal yang terlarang. Ia bisa juga bermanfaat untuk memaniskan hasil tulisan kita. Tapi jangan lupakan inti dari ilmu. Jangan sampai cerita yang bagus itu memalingkan kita dari Al-Qur'an, As-Sunnah, dan warisan para ulama. Sumber-sumber tulah lentera cahaya yang sesungguhnya. Terang-benderang. Menuntun kita tuk amalkan kebenaran.

Kita tidak akan pernah menjadi penegak agama-Nya selama kita enggan meneguk ilmu yang murni. Langsung dari sumber asli. Jika kita terus bermain dengan ucapan manusia tak berdasar, bagaimana pula kita akan menyatukan umat yang hampir jatuh terkapar?

Bangkit. 
Bangkit.
Bangkit.
Raihlah kitab-kitab itu. 
Baca. 
Amalkan. 
Dakwahkan. 
Sabar.


Perumahan Pondok Indah, Jakarta Selatan.
18/7/1435 21.25 WIB 

sumber gambar: http://almakkiyat.files.wordpress.com/2010/03/fathulbari1.jpg

Terpalingkan




Mengapa engkau terlena?

Kembalilah, duhai jiwa. Kembalilah . . .

"Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu." (Adz-Dzaariyaat: 50-51)


Apa lagi yang kau tunggu?




sumber gambar: http://blog.timesunion.com/opinion/files/2011/04/0411_WVquran.jpg