Selasa, 23 Oktober 2018

Setetes Air Jernih dari Tujuh Samudra




Dahulu saya sering bingung. Kenapa para ulama memilih buku dari jenis "matan" untuk dihapal dan diajarkan? Selain ungkapan yang rumit walaupun nampak simpel bagi sebagian orang, matan seringkali mengandung informasi tertulis yang sedikit. Hanya contoh kasus dan hukum terkait kasus tersebut. Terkadang, ditambahi dengan isyarat bahwa yang disebutkan itu adalah pendapat terkuat. Selesai. Tidak ada tambahan lagi. Saya pun heran, bagaimana mungkin para ulama, lautan ilmu dan pengetahuan, hanya memberikan informasi sesedikit ini? Bukankah ilmu ini begitu kompleks dan sistematis? Ke mana semua kompleksitas itu?

Ternyata jawabannya ada di matan itu sendiri.

Nature of knowledge, tabiat ilmu pengetahuan dari keilmuan agama itu sendirilah yang membuat pembelajaran dengan matan seringkali dipilih oleh ulama terdahulu. Kenapa?

Berbeda dengan ilmu sosial atau ilmu alam yang begitu dinamis, dimana banyak aspek dari kedua jenis ilmu tersebut terus berubah seiring dengan perkembangan zaman, ilmu agama adalah metode dan cara mengetahui benar-salah dalam sebuah isu. Ini benar, itu salah. Ini halal, itu haram. Ini sahih, itu daif. Ini nyata, itu dusta. Banyak hal mulai dari mutlaknya keesaan Allah, benarnya nubuat muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hingga penentuan halal haram, mayoritasnya adalah ilmu yg sudah "selesai". Sumbernya telah terkumpul, cara pengolahannya lengkap dan  valid, serta banyak dari hasil pengambilan kesimpulan yang sudah dibukukan dengan rapi oleh para ulama. Seringkali yg tersisa adalah bagaimana mendekatkan praktek ilmu tersebut kepada setiap generasi, baik secara pengajaran maupun aplikasi praktis.

Tabiat ilmu agama yang begitu luas dan "sudah selesai" inilah yang menjadikan pembelajaran menggunakan matan untuk dikuasai dengan bimbingan seorang pakar sebagai metode yang dipandang ideal untuk banyak jenis ilmu agama.

Hampir semua ilmu yang dipelajari itu kebanyakannya "sudah selesai" dan pondasinya pun dimaklumi di kalangan ulama. Maka, sebelum melangkah jauh dalam riset dan pengembangan, seorang pembelajar paling tidak harus menguasai ilmu tersebut sampai pada batas yang dicapai pada zamannya. Agar sumber aslinya terjaga dan dia tetap bisa mengikuti ke mana arah karya yang dihasilkan oleh para pakar ilmu tersebut.

Maka ilmu agama tidak mensyaratkan sejak awal agar sang pelajar menguasai semua materi dengan nukilan dari buku. Tapi, tugas pengajar adalah untuk menghimpun berbagai pengetahuan dalam ilmu tersebut, dikaitkan dengan ungkapan-ungkapan dalam matan yg diajarkan, untuk kemudian sang pelajar menghapal dan menguasai informasi tersebut sambil menggunakan matan terkait untuk menjadi "pemancing" dalam menjaga ilmu yang dipresentasikan oleh gurunya.

Minggu, 04 September 2016

Tahapan Belajar Ilmu Agama





“Bisa baca kitab, sudah. Lalu, sekarang apa?”

Kelas 3 sma. Tahun 2013. Akhirnya tamat juga kitab bahasa arab yang bisa saya pelajari dari guru saya(1). Alhamdulillah. Allah memberikan rejeki berupa kemampuan membaca kitab. Sesuatu yang saya impikan sejak lama. Nah. Lalu, sekarang apa?

Itulah pertanyaan yang ada di benak saya sejak beberapa tahun lalu. Ketika sudah bisa membaca kitab berbahasa arab yang merupakan pintu gerbang menuju ilmu keislaman yang begitu luas. Tahapan apa lagi yang harus ditempuh?

Tentu, idealnya adalah kita harus memiliki seorang guru yang mumpuni di beberapa bidang untuk membimbing kita mempelajari Ilmu agama seperti akidah, fiqih, juga ushul fiqh dan mustholah hadits. Tapi, bagaimana jika kita kesulitan menemukan guru tetap yang mendiktekan kepada kita berbagai permasalahan ilmu agama? Bagaimana jika kita tidak memiliki seseorang yang bersedia membimbing kita secara penuh untuk menaiki anak tangga keilmuan agama islam? Apakah kita lantas putus asa dan menghentikan pembelajaran? Tentu tidak.

Ketiadaan kondisi ideal tidak berarti kita lantas tidak berusaha sama sekali. Sebagaimana dikatakan oleh pepatah arab, apa yang tidak dapat diraih semuanya, tidak pula ditinggalkan semuanya. Juga, harus kita sadari bahwa Allah ta’ala memerintahkan  kita untuk menaati-Nya semaksimal yang kita bisa, sebagaimana yang ia firmankan dalam surat keenam puluh empat ayat keenam belas,

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (At-Taghabun: 16)

Jelas, kita diminta untuk berusaha maksimal dan tidak akan dibebani dengan apa yang tidak mampu kita jangkau.

Karena saya termasuk orang yang -ketika itu- belum dikarunia rejeki seorang guru yang secara intensif mengajarkan ilmu islam (terutama ilmu alat), maka saya berinisiatif untuk mencari tahapan belajar yang sesuai bagi saya. Beberapa kali mencari di internet, saya menemukan beberapa saran yang cukup membantu. Walaupun tetap saja saya rasa ada sesuatu yang kurang,berkaitan dengan sistem pembelajaran maupun kurikulum yang ditawarkan.

Hingga akhirnya saya menemukan sebuah buku yang menarik. Di pameran buku semester kemarin, teman saya menyarankan untuk membeli sebuah buku yang berkaitan dengan sistem pembelajaran dan kurikulum ilmu agama serta ilmu sosial.  Buku itu baru saja mengalami revisi dan baru saja keluar dengan format terbaru.

As-Subulul Mardhiyyah, li tholabil ‘ulum Asy-Syar’iyyah, nama buku itu. Arti harfiahnya adalah Jalan yang diridhai untuk mempelajari ilmu agama. Karangan Ahmad Salim, seorang peneliti di pusat studi dan riset Tafakkur.

Saya pun bergegas membeli buku itu. Alhamdulillah, harganya ketika itu 50 real. Tidak bisa dibandingkan dengan informasi menarik yang ada di dalamnya. Buku sudah di tangan, sekarang waktunya saya menikmati racikan sang penulis.

Buku yang tebalnya sekitar 663 halaman ini ternyata tidak hanya membahas tentang kurikulum pembelajaran ilmu agama. Buku ini terbagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama adalah bagian dimana Syekh Ahmad membahas tentang beberapa isu yang berkaitan dengan dunia ilmu agama. Lalu bagian kedua beliau membahas tentang kurikulum yang beliau sarankan untuk setiap cabang ilmu agama.

Untuk yang bagian pertama, pada awalnya saya kira beliau hanya akan membahas tentang hal-hal yang sudah sering dibahas di buku-buku tentang menuntut ilmu lainnya seperti tentang keutamaan belajar ilmu agama, kisah para ulama dahulu, dan lain sebagainya. Tapi ternyata tidak.

Beliau justru membahas beberapa isu terkait dunia keilmuan yang sangat menarik untuk didiskusikan. Di antaranya adalah tentang menentukan tujuan kita belajar ilmu agama, tentang metodologi, tentang generalis dan spesialis, tentang bermadzhab atau tidak, dan beberapa isu lainnya yang menurut saya sangat penting untuk dipahami dengan baik oleh seorang pelajar ilmu apapun.

Barulah di bagian kedua beliau membahas tentang kurikulum dan sistem pembelajaran yang beliau sarankan. Di bagian pertama, beliau menjelaskan bahwa di buku ini beliau mengumpulkan dari berbagai macam saran yang sudah dilontarkan sebelumnya. Beliau mengumpulkan, menyeleksi, kemudian menawarkan sebuah metode yang menjadikan pembelajaran sebuah ilmu itu terasa lebih realistis dan bisa diaplikasikan.

Bidang ilmu yang beliau bahas sangat banyak. Mulai dari ‘Aqidah, Fiqh, Tafsir, dan Hadits, hingga ilmu Ushul, Maqashid, dan Manthiq. Semuanya mencapai 23 ilmu dengan tahapan-tahapannya. Kemudian beliau juga menyertakan list buku yang seharusnya dibaca oleh seorang pelajar untuk menata keilmuan dan pola pikirnya. Setiap tahapan pembelajaran memiliki buku yang ditujukan untuk tahap pembelajaran tersebut.

Di akhir buku, beliau membahas tentang ilmu sosial yang penting untuk dipelajari oleh seorang pelajar ilmu agama. Beliau mengatakan bahwasanya diantara ilmu sosial yang sangat penting adalah antropologi, psikologi, pendidikan, linguistik, ekonomi, dan politik. Tidak berhenti di situ, beliau pun menyebutkan list buku yang hendaknya dibaca di setiap disiplin ilmu. Ini merupakan sebuah saran yang mengejutkan bagi saya karena sesuai dengan apa yang mengganjal di pikiran saya selama ini. Tentang eratnya hubungan ilmu agama dengan ilmu sosial. In sya Allah akan saya tuliskan artikel tersendiri mengenai hal ini
.
Nah, lalu, apa saja buku yang beliau sarankan? Dan bagaimana cara belajarnya? In sya Allah akan saya bahas di rangkaian tulisan selanjutnya.

Untuk sementara, saya sajikan dulu sedikit info tentang buku ini sekaligus . Semoga Allah mudahkan kita untuk terus meningkatkan kualitas ibadah kita kepada-Nya. Semoga bermanfaat!

------------------------------------------------------------------------------------------------

Judul Buku       : As-Subulul Madhiyyah li Tholabiil ‘Ulum Asy-Syari’iyyah
السبل المرضية لطلب العلوم الشرعية
Penulis             : Ahmad Salim
Penerbit          : Pusat Studi dan Riset Tafakkur
Cetakan           : Ketiga
Tebal               : 663 halaman
Harga              : 50 Real Saudi (kurs sekitar 3.600 rupiah)

Di antara poin menarik di dalam buku ini:

“Ilmu dunia yang bermanfaat adalah ilmu syari yang wajib untuk dikuasai” (hal. 29)

“…dan karena itu, kami memandang pentingya peningkatan jumlah orang yang mendalami ilmu sosial dan humaniora…” (hal. 38)

“Maka menurut saya, seorang generalis yang ideal dalam ilmu agama hendaknya mempelajari setiap ilmu baik ilmu alat maupun ilmu tujuan dengan kadar yang dapat membantunya untuk melakukan ijtihad secara parsial di setiap ilmu itu. Hingga dia dapat memandang pendapat-pendapat para pakar di ilmu-ilmu tersebut sebagai seorang yang jeli dan kritis, serta mampu untuk menguatkan salah satu pendapat yang dia anggap paling tepat.” (hal. 87)
                                                        
------------------------------------------------------------------------------
1.     1. Kitab itu adalah Mutammimah Al-Ajurrumiyyah. Buku nahwu level menengah yang baru sedikit menyinggung masalah perbedaan pendapat di kalangan pakar nahwu.

Selasa, 30 Agustus 2016

Mengapa sulit belajar agama?





Merasa kesulitan dalam belajar agama? Mungkin 3 hal ini bisa kita jadikan bahan evaluasi.

1. Ilmu adalah karunia Allah bagi hamba-Nya. Hati adalah wadah ilmu. Jika wadah kita masih kotor, bagaimana mungkin akan kita gunakan untuk menampung ilmu Allah yang jernih?

Bersihkan hati dari menduakan Allah, dari mengada-ada atas nama-Nya, dan dari sikap tidak tahu malu untuk berbuat maksiat sedangkan Ia selalu melihat kita.

2. Jangan menunda. Jangan lari dari kenyataan. Walaupun kita telat memulai, jangan jadikan itu alasan untuk tidak belajar mengenal-Nya. Tidak ada gunanya lari atau menunda jika akhirnya harus kita hadapi juga. Mulailah dari sekarang, maka suatu saat kita akan sampai. Kalaupun tidak, bukankah kita ingin menemui-Nya dalam keadaan kita sedang menuju-Nya?

3. Sabar dalam belajar. Yakin akan Janji-Nya. Ilmu itu seakan samudera yang tak bertepi. Padang yang begitu luas. Dan jalan yang tak memiliki akhir. Tetapi, ilmu ada tahapan dan tingkatannya. Mulailah dari yang dasar. Setapak demi setapak. Maka ilmu itu akan kokoh dan menetap. Hingga Allah bantu kita memberi manfaat untuk diri sendiri dan umat yg sedang menangis.

Jangan sampai lamanya waktu belajar membuat kita putus asa... karena

إنه من يتق و يصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين...

"Sungguh, barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik" (QS 12: 90)

Berikanlah yang terbaik, lalu serahkanlah hasilnya kepada Allah ta'ala, dan yakinlah dengan apa yang Allah janjikan,

و الذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا و إن الله لمع المحسنين...

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. 29:69)

371127
Hamzah Surbawi

sumber gambar: http://www.pngpix.com/wp-content/uploads/2016/03/Quran-PNG-image.png

Minggu, 28 Agustus 2016

Permata Afrika Utara (1)




            Tahun 440 Hijriah. Laki-laki itu berdiri tegak menghadap permata “Al-Maghrib Al-Islami”. Pusat ilmu agama dan ilmu dunia, jantung peradaban afrika utara, kota Qairawan seakan menjanjikan banyak hal bagi siapa yang singgah padanya. Setelah lepas dari penjajahan rezim Syiah Ismailiyah, Qairawan terus mekar dengan majelis-majelis ilmu dan kajian. Para ahli fiqih giat mengajarkan ilmu kepada murid mereka, serta para pelajar berdatangan dari seluruh penjuru Afrika utara hingga negeri Andalusia nan jauh.


            Laki-laki itu memasuki sebuah masjid lantas mengedarkan pandangannya. Ia berhenti ketika melihat seorang syaikh yang berwibawa sedang menyampaikan kajian. Abu Imran Al-Fasi, Begitulah syaikh itu dipanggil. Pakar fiqihnya para ulama, rujukan penganut madzhab Malik bin Anas, dan Imam kaum muslimin. Hatinya terpikat dengan syaikh agung itu dan ia bertekad untuk tekun melazimi pelajaran sang syaikh.


            Hari berlalu hingga Yahya –sang pemuda- memutuskan untuk mengutarakan tujuan asal kedatangannya ke Qairawan. Ia sedang mencari seorang alim yang berkenan menemaninya untuk mendidik kaumnya, suku Jadalah. Mendengar hal itu, sang syaikh bertanya tentang sifat-sifat sukunya. 


“Kaumku adalah Jadalah, penghuni gurun-gurun tandus. Anak keturunan kabilah Sonhajah.” Kata Yahya.


“Baik, saudaraku. Lalu, terangkanlah kepada kami tentang keadaan kalian, dan madzhab apa yang kalian anut?” Sang Syaikh kembali bertanya.


“Kami tidak memiliki ilmu sedikitpun dan tidak bermadzhab dengan madzhab apapun. Kami terkungkung oleh gurun dan tidak ada yang mendatangi kami kecuali para pedagang yang agamanya rusak!” Jawab Yahya.


            Gayung bersambut. Seruan pun diserukan. Siapa yang berkenan menyebarkan agama Allah di pedalaman Afrika nun jauh?


            Sayang, bayangan akan kerasnya padang pasir dan beratnya kehidupan nomaden membuat para pelajar seakan ciut. Tidak ada yang menyahut. Tidak ada yang menyambut. Ah, siapa pula yang rela meninggalkan nyamannya kota besar untuk berdakwah di pedalaman? 


Yahya hampir putus asa, tetapi sang syaikh menghiburnya dan memberikan sepucuk surat padanya.


            “Datangilah muridku, seorang faqih nan zahid di ujung negeri Maghrib. alimnya negeri Sus, Wujaj bin Zalu Al-Lamthi.” Sang Syaikh berpesan.


            Yahya pun menuju negeri Sus, meninggalkan Qairawan dengan segala kenyamanannya. Di daerah Malkus, ia menemukan Syaikh yang dia cari. Dengan takzim, ia berikan surat tentang hal yang membuat hatinya gundah.


            Beberapa saat setelah membaca surat itu, Syaikh Wujaj mengumpulkan semua muridnya dan menawarkan perdagangan dengan Allah. Tawaran untuk mengajari kaum Jadalah tentang agama langit dan aturan terbaik. Mengamalkan apa yang selama ini mereka daraskan bersama sang guru.


Majulah salah seorang di antara mereka yang tampak padanya tanda-tanda kesalihan. Salah satu di antara murid terbaik Syaikh Wujaj, keturunan Bani Jazul, Abdullah bin Yasin. 


            Maka berangkatlah Yahya dan Abdullah bin Yasin menuju padang pasir Jadalah untuk menyerukan agama Allah, menyebarkan kebaikan di bumi Afrika yang luas.


(Bersambung)

371126

Hamzah Surbawi

Sumber gambar: http://i493.photobucket.com/albums/rr300/imiwasif/MAPS/23.jpg

Rabu, 18 Mei 2016

Lubang dalam Diri


Sekeras apapun kau mengingkari, pada akhirnya kau tetap harus mengakui bahwa dalam setiap jiwa ada lubang yang hanya bisa diisi oleh Allah.

Kehampaan yang hanya bisa diisi oleh pengagungan atas dzat yang Maha Agung. Oleh pengakuan atas kelemahan diri. Oleh ketaatan yang absolut.

Apakah sudah terisi kosongmu?

370811
Hamzah Surbawi

Sabtu, 25 Juli 2015

Berdiri di Malam Hari



          


“Ingat pesan bapak ini ya, Anak-anakku…”

Pandangannya temaram namun teduh. Tubuhnya ringkih. Bukti dari perjuangan dakwah puluhan tahun.

“Malam. Ketika malam menjelang, mereka yang teramanahi dakwah akan memilih bangkit dari peraduan dan berdiri di hadapan Rabb semesta Alam. Ingatlah Firman Allah ta’ala,

                               وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isra’ QS 17 : 79)

apa yang menghalangi kita dari solat malam? Sedangkan orang-orang sebelum kita telah menjadikan solat malam sebagai nutrisi harian. Jangan sampai kalian lalai, anak-anakku. Shalat malam adalah kebutuhan yang urgent bagi seorang muslim, terlebih para juru dakwah. Dengannya yang lemah terkuatkan, yang hina teragungkan, dan derajat-derajat terangkat. Maka perhatikanlah, Semoga Allah memberi kalian taufik.”

Doakan kami, pak. Doa bapak sangat berarti bagi kami.

As-Surbawi
9 Syawwal 1436